Konsep Dasar Pendidikan

A.PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dalam masyarakat luas, education take role (pendidikan memegang peran) yang menentukan terhadap eksistensi dan perkembangan masyarakat, karena pendidikan merupakan usaha untuk mentransfer dan mentransformasikan pengetahuan serta menginternalisasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus bangsa pembawa tongkat estafet kemajuan sebuah negara.

Peningkatan kualitas pendidikan dirasa sebagai suatu kebutuhan suatu negara yang ingin maju. Dengan keyakinan bahwa pendidikan yang bermutu dapat menunjang pembangunan disegala bidang. Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman tentang dasar dan tujuan pendidikan secara mendalam. Apabila kita telah memamahami dasar dan tujuan, penulis yakin bahwa kita bisa memajukan pendidikan secara nasional hingga dapat bersaing secara global

Foundation and aim of Education (dasar dan tujuan pendidikan) merupakan masalah yang fundamental dalam pelaksanaan pendidikan, karena dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Tujuan pendidikan itupun akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Untuk itu maka kita harus benar benar memahami apa saja dasar pendidikan dan tujuan yang nantinya bisa dicapai.

B.PENGERTIAN PENDIDIKAN

1.   Pengertian Pendidikan menurut :
Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) menjelaskan bahwa Pendidikan ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesempurnaan dan keindahan.[1]

Aristoteles (filosof Yunani yang hidup dari tahun 384 SM-322 M) menjelaskan bahwa Pendidikan itu ialah sesungguhnya dalam diri manusia itu ada dua kekuatan yaitu pemikiran manusiawi dan nafsu kebinatangan dan pendidikan ialah jalan atau cara yang memenangkan pemikiran manusiawi atas nafsu kebinatangan.[2]

Herman H. Horne, Berpendapat : Pendidikan harus dipandang sebagai suatu proses penyesuaian diri manusia secara timbal balik dengan alam sekitar, dengan sesama manusia dan dengan tabiat tertinggi dari kosmos.[3]

John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa, maka filsafat dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan[4].

Dalam bukunya, Democracy and Education, Dewey menerangkan mengenai pendidikan  dalam  diskursus  pengalaman.  Menurutnya,  “education  is  that reconstruction  or reorganization  of  experience  wich  adds  to  the  meaning  of  experience, and  wich  increases  ability  to  direct  the  course  of  subsequent  experience” (pendidikan adalah  rekonstruksi  atau  reorganisasi  pengalaman   serta  meningkatkan kemampuan  untuk  menentukan  arah  bagi  pengalaman  berikutnya).[5]

Teori-teori  pendidikan  dalam  kerangka  filosofi  Barat  dengan  kekhasan  masing-masing  tokoh  utamanya  berkembang  sangat  pesat  dan  bahkan  telah  mewarnai dunia pendidikan di berbagai penjuru dunia. Salah satu pedagog Barat  era moderen yang dipandang cukup berpengaruh dalam arena pendidikan adalah  John Dewey. Arthur K. Ellis menguraikan bahwa John Dewey merupakan pemikir  yang cukup terkenal pada masanya. Bukunya, How we Think (1910) masih dipakai dalam  dunia  pendidikan  dan  filsafat.  Posisi  John  Dewey,  demikian  tambahan Athur,  merupakan  tokoh  utama  pemikir  kependidikan  di  negaranya  (Amerika), baik pada masa lalu maupun sekarang.[6]

Asy-Syabani juga menempatkan pendidikan sebagai usaha membentuk prilaku manusia dengan menanamkan ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai  moral  agar  memperoleh  kebahagiaan  baik  sebagai  individu  maupun sebagai anggota masyarakat dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat (al I`dad li al-hayat ad-dunya wa al-akhirah).[7]

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[8]

Dalam pendidikan Islam, dikenal istilah-istilah al-ta’lim, al-tarbiyyah dan al-ta’dīb.[9] Ketiga  istilah  ini  bila  ditelusuri  lebih  lanjut,  maka  masing-masing sebenarnya mempunyai makna tersendiri dalam hubungannya dengan pendidikan.[10]

Kata al-ta’lim, merupakan masdar dari kata ‘allama yang berarti pengajaran  yang  bersifat  pemberian  atau  penyampaian  pengertian  dan keterampilan.[11] Kata ‘allama dan kata-kata yang seakar dengannya diulang lebih dari  105  kali  dalam  al-Qur’an.[12]

Pengertian al-ta’lim lebih  sempit  maknanya,  yaitu  hanya  sebatas  proses pentransferan  sejumlah  nilai  antar  manusia  dan  ini  kelihatannya  sebatas mempersiapkan  peserta  didik  untuk  menguasai  nilai  yang  ditransfer  secara kognitif  dan  psikomotorik  saja.  Namun  demikian  menurut  ‘Abd.  Fattah Jalal, bahwa pengertian kata al-ta’lim secara implisit juga menanamkan aspek afektif, karena pengertian al-ta’lim juga ditekankan pada perilaku yang baik (al-akhlaq alkarimah).[13]

Dalam memberikan pengertian dari  kata al-tarbiyyah, para ilmuwan muslim  berbeda pendapat. Fakh al-Razi mengartikan term rabbayani sebagai bentuk  pendidikan dalam arti luas, meliputi pendidikan yang bersifat ucapan (aspek  kognitif)  dan  aspek  tingkah  laku  (afektif).[14]

Sedangkan  Sayyid  Qutb mengartikannya  sebagai  “upaya  pemeliharaan  jasmaniah  terdidik  dalam membantunya  menumbuhkan  kematangan  sikap  mental  yang  bermuara  pada al-akhlaq al-karimah pada diri terdidik”.[15] Menurut ‘Abd al-Rahman al-Nahlawi, al-tarbiyyah  merupakan  proses  pentransferan  sesuatu sampai batas kesempurnaan (kedewasaan) dan dilakukan secara bertahap.[16]

Kata al-ta’dīb, merupakan masdar dari addaba yang berarti proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti subyek didik. Subtansinya lebih terfokus pada upaya pembentukan pribadi muslim yang berakhlak mulia.

Menurut Muhammad Naquib al-Attas,[17] penempatan  istilah al-ta’dīb lebih cocok  digunakan dalam dirkursus pendidikan Islam dibandingkan dengan penggunaan  term al-ta’lim dan al-tarbiyyah. Sebab bila dibandingkan ketiga kata tersebut,  yaitu al-ta’lim, al-tarbiyyah dan al-ta’dīb, maka akan terdapat pengertian yang  berbeda   mengenai  fokus yang  ingin  dicapai oleh subyek didik. Namun demikian  ketiga  pengertian di  atas  pada  dasarnya  saling  berkaitan  antara  satu dengan yang lainnya.

Secara etimologi, ta’dīb merupakan bentuk masdar dari kata kerja addaba-yuaddibu-ta’diban yang  kemudian  diterjemahkan  menjadi  pendidikan  sopan santun  atau  adab.[18] Dari  sisi  etimologi  ini,  dapat  dipahami  bahwa ta’dīb  itu berkenaan dengan budi pekerti, moral, dan etika. Dalam Islam, budi pekerti, moral, dan etika itu satu rumpun dengan akhlak.

Secara  terminologis,  ta’dīb  diartikan  sebagai  proses  mendidik  yang ditujukan  kepada  pembinaan  budi  pekerti  pelajar  dan  berujung  pada  proses penyempurnaan  akhlak. Sebagaimana  Rasulullah  sabdakan  dalam  sebuah  hadis, yang  berbunyi,  “Sesungguhnya  aku  diutus  untuk  menyempurnakan  keluhuran budi pekerti.” Kata ta’dīb yang  berarti  pendidikan  atau  mendidik  ini  bisa  dilacak  dalam hadis  yang   berbunyi:  “Addabani  Rabbi  fa’ahsana  ta’dibi” (Tuhanku  telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku).[19]

 

C.KERANGKA PENDIDIKAN

 

1.   HAKEKAT PENDIDIKAN
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan untuk berfungsi dalam kehidupan masyarakat.[20]

Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia manusia. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena itulah sejak dahulu banyak manusia gagal menjadi manusia. Jadi, tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia. Agar tujuan itu dapat dicapai dan agar program dapat disusun maka ciri-ciri manusia yang telah menjadi manusia itu haruslah jelas.

Seperti apa kriteria manusia yang menjadi tujuan pendidikan itu? Tentulah hal ini akan ditentukan oleh filsafat hidup masing-masing orang. Orang-orang Yunani lama itu menentukan tiga syarat untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri; kedua, cinta tanah air; dan ketiga berpengetahuan.[21]

2.   DASAR PENDIDIKAN
Suatu rumusan nasional tentang istilah “pendidikan” adalah sebagai berikut: “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang” (UU. RI. No. 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal 1). Dan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional)

Pada rumusan ini terkandung empat hal yang perlu digaris bawahi dan mendapat penjelasan lebih lanjut. Dengan “usaha sadar” dimaksudkan, bahwa pendidikan diselenggarakan berdasarkan rencana yang matang, mantap, jelas, lengkap, menyeluruh, berdasarkan pemikiran yang rasional-objektif. Pendidikan tidak diselenggarakan secara tak sengaja atau bersifat insidentil dan seenaknya, atau berdasarkan mimpi di siang bolong yang penuh fantatis.

Fungsi pendidikan adalah menyiapkan peserta didik. “menyiapkan” diartikan bahwa peserta didik pada hakikatnya belum siap, tetapi perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri. Hal ini menunjuk pada proses yang berlangsung sebelum peserta didik itu siap untuk terjun ke kancah kehidupan yang nyata. Penyiapan ini dikaitkan dengan kedudukan peserta didik sebagai calon warga negara yang baik, warga bangsa dan calon pembentuk keluarga baru, serta mengemban tugas dan pekerjaan kelak di kemudian hari.[22]

Dasar pendidikan kita seharusnya tidak keluar dari dasar negara Indonesia, yakni Pancasila. Sayangnya Pancasila belum diturunkan 100% ke dalam UU Sisdiknas 2003 yang kita pakai sekarang.[23]

Dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Diatas kedua pilar inilah dibangun konsep dasar pendidikan Islam.[24]

3.   TUJUAN PENDIDIKAN
Secara umum, ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoretis yang pertama berorientasi kemasyarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk sistem pemerintahan demokratis, oligarkis, maupun monarkis. Pandangan teoretis yang kedua lebih berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.[25]

Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh peserta didik setelah diselenggarakannya kegiatan pendidikan. Seluruh kegiatan pendidikan, yakni bimbingan pengajaran, dan/atau latihan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam konteks ini, tujuan pendidikan merupakan suatu komponen sistem pendidikan yang menempati kedudukan dan fungsi sentral. Itu sebabnya, setiap tenaga kependidikan perlu memahami dengan baik tujuan pendidikan, supaya berupaya melaksanakan tugas dan fungsinya untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

Tingkat-tingkat Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan disusun secara bertingkat, mulai dari tujuan pendidikan yang luas dan umum sampai ke tujuan pendidikan yang spesifik dan operasional. Tingkat-tingkat tujuan pendidikan meliputi:
a). Tujuan Pendidikan Nasional[26]
          b). Tujuan Institusional[27]
          c). Tujuan Kurikulum
          d). Tujuan Pembelajaran (Instruksional)
Tujuan pendidikan adalah hal pertama dan terpenting bila kita merancang, membuat program, serta mengevaluasi pendidikan. Program pendidikan 100% ditentukan oleh rumusan tujuan. Mudahnya: Mutu pendidikan akan segera terlihat pada rumusan tujuan pendidikan. Mengenai undang-undang sistem pendidikan Indonesia, cacatnya justru terlihat pada pasal mengenai tujuan pendidikan nasional.[28]

Secara umum tujuan pendidikan ialah manusia yang baik. Secara umum pula diketahui bahwa bila setiap orang sudah menjadi orang yang baik maka masyarakat akan menjadi masyarakat yang baik. Salah satu contoh masyarakat yang baik ialah masyarakat kota madinah pada zaman Nabi Muhammad SAW.[29]

4.   KURIKULUM PENDIDIKAN
Pada umumnya isi kurikulum ialah nama-nama mata pelajaran beserta silabinya atau pokok bahasan. Tetapi, sebenarnya kurikulum tidak harus berupa nama kegiatan. Contoh nama mata pelajaran: Matematika, Biologi, Agama Islam. Contoh Kegiatan: Mengelas kuningan, memperbaiki mesin diesel, bertanam singkong. Jika kurikulum itu berorientasi kompetensi maka anda akan menerima kurikulum yang isinya daftar kompetensi serta indikatornya. Sekalipun isi kurikulum dapat bermacam-macam, mamun isi kurikulum tetap saja berupa program dalam mencapai tujuan pendidikan.[30]

5.   PESERTA DIDIK
Dalam bahasa Indonesia ada tiga sebutan untuk pelajar, yaitu murid, anak didik, dan peserta didik. Salah satu tesis mengenalkan istilah baru yaitu “dinidik” tetapi kelihatannya istilah itu amat tidak umum bahkan belum banyak orang mengenalnya.

Sebutan murid bersifat umum, sama umumnya dengan sebutan anak didik dan peserta didik. Istilah murid kelihatannya khas pengaruh agama Islam. Di dalam Islam istilah ini diperkenalkan oleh kalangan shufi. Istilah murid dalam dalam tasawuf mengandung pengertian orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju tuhan. Sebutan anak didik mengandung pengertian guru menyayangi murid seperti anaknya sendiri. Faktor kasih sayang guru terhadap anak didik dianggap salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Dalam sebutan anak didik agaknya pengajaran masih berpusat pada guru, tetapi tidak lagi seketat pada guru-murid di atas.

Sebutan peserta didik adalah sebutan yang paling mutakhir. Istilah ini menekankan pentingnya murid berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dalam sebutan ini aktivitas pelajar dalam proses pendidikan dianggap salah satu kata kunci.[31]

Peserta didik merupakan suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen pendidikan, peserta didik dapat ditinjau dari berbagai pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/paedagogis.[32]

6.   TENAGA KEPENDIDIKAN
Di dalam ilmu pendidikan yang dimaksud pendidik ialah semua yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu manusia, alam, dan kebudayaan. Manusia, alam, dan kebudayaan inilah yang sering disebut dalam ilmu pendidikan sebagai lingkungan pendidikan. Yang paling penting di antara ketinganya ialah orang. Alam itu tidak melakukan pendidikan secara sadar; kebudayaan juga. Orang, ada yang melakukan pendidikan secara sadar dan ada yang tidak dengan kesadaran, dan ada yang kadang-kadang sadar kadang-kadang tidak.[33]

Tenaga Kependidikan merupakan suatu komponen yang penting dalam menyelenggarakan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan/atau memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan. Salah satu unsur tenaga kependidikan adalah tenaga pendidik/tenaga pengajar yang tugas utamanya adalah mengajar.[34]

7.   LEMBAGA PENDIDIKAN
Untuk lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang menganut falsafah hidup pancasila, semestinya dibicarakan tentang nilai-nilai pancasila dalam proses pendidikan. Dan untuk lembaga-lembaga pendidikan agama Islam yang memiliki falsafah islami. Maka semestinya yang dibicarakan adalah tentang penanaman nilai-nilai islami dalam proses pendidikan.[35]

Secara konseptual lembaga pendidikan (sekolah) dibentuk untuk melakukan proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan. Tiga tujuan setidaknya ingin dicapai melalui sekolah yakni moralitas (akhlak), civic (cinta tanah air), dan berpengatahuan.

8.   PROSES PENDIDIKAN
Pendidikan adalah suatu proses penerangan yang memungkinkan tersentuhnya pengembangan daya untuk mengetahui kemudian membentuk sikap tanggung jawab kepada diri sendiri, lingkungan masyarakat, dan Dzat Pencipta, yang dalam kelanjutannya melahirkan kemampuan untuk melakukan sesuatu dalam rangka memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dirinya dan masyarakatnya untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Keadaan seperti ini bukan terjadi karena proses yang lahir dari rencana rinci yang tersusun dalam silabus yang mencerminkan ruang lingkup, susunan, tingkat materi, atau tekhnik belajar mengarang demi tercapainya tujuan yang sudah dirumuskan secara normatif, tatapi suatu proses yang terjadi karena adanya interaksi sosial yang saling mempengaruhi.[36]

Satu hal yang penting untuk diperhatikan yang menjadi topik dalam pembahasan ranah filsafat adalah bahwasanya sebuah proses pendidikan mestilah mambangun sebuah internalisasi content pendidikan. Baik itu terkait dengan internalisasi pengetahuan terlebih lagi internalisasi nilai. Ada rambu-rambu penting yang perlu diperhatikan agar sebuah proses sukses melakukan internalisasi. Ada tiga tujuan pembelajaran:
1.      Tahu (knowing).
2.      Mampu melaksanakan apa yang diketahui (doing).
3.      Menjadi apa yang telah dilaksanakan itu (being).
Tiga hal di atas berlaku untuk semua disiplin ilmu baik ilmu yang tidak bersifat nilai, apalagi yang bersifat nilai. Untuk itu ada dua langkah penting yang perlu dipersiapkan dan didesain oleh sebuah proses pendidikan:
1.      Keteladanan dan Pembiasaan.[37]

D.MANFAAT PENDIDIKAN

1.   Manfaat Pendidikan Bagi Manusia
Maju mundurnya suatu negara, dan berkualitas tidaknya SDM penduduk suatu negeri sangat bergantung pada mutu dan kualitas pendidikan di negara tersebut. Sedangkan mutu pendidikan yang akan diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas paradigmatik yang dibangun dalam bidang pendidikan.  Oleh karena itu, untuk memperbaiki mutu pendidikan harus dimulai memperbaiki cara pandang terhadap pendidikan itu sendiri. Cara pandang yang salah terhadap pendidikan akan melahirkan proses pendidikan yang salah kaprah. Kesalahkaprahan dalam proses akan melahirkan output pendidikan yang mengecewakan.[38]

a.       Manusia yang beradab
Al-Attas mengatakan bahwa orang terpelajar adalah orang baik. “Baik” yang dimaksudkannya disini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya”. Oleh karena itu, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. Tulisnya:

Orang baik adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang hak; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakat; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.[39]


b.      Memanusiakan Manusia
Mengutip kalimat Ahmad Tafsir Rasanya, kita telah menemukan bahwa inti manusia ialah imannya dan tempatnya di dalam kalbu. Jika ini benar maka pembinaan manusia agar menjadi manusia dilakukan dengan cara mengisi kalbu itu dengan mempertebal iman.[40]

Jadi, manfaat pendidikan itu sendiri adalah menjadikan manusia sebagai manusia yang mempunyai iman yang kuat, hingga akhirnya manusia dapat dikatakan wakil tuhan di bumi (khalifatullah fil ardhi) menjadi ummatan wasatan (muslim moderat) dan menjadi bashiro wanadziro (pemberi kabar gembira) serta rahmatan lil aalamin (rahmat bagi semesta alam).


DAFTAR PUSTAKA

Tim redaksi nuansa aulia, 2006, Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Guru dan Dosen, Jakarta:Nuansa Aulia.
Amsal, Bakhtiar. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.2011.hal.132
Dewey, John, Democracy  and  Education, New York:  The Macmillan Company, 1950
asy-Syaibani,  Daur  at-Tarbiyah  fi  Bina  al-Fard  wa  al-Mujtama`, Min  Silsilah  Kitab  asySyahr li Idarah as-Saqafah, `Adad 16, 1974, hal. 108-118 dan Al-Usus an-Nafsiyyah wa at-Tarbawiyyah li Ri`ayat as-Syabab, Beirut: Dar as-Saqafah, 1973, hal. 399-404 dan Falsafah at-Tarbiyah…,
Tim redaksi nuansa aulia, Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Guru dan Dosen, (Jakarta:Nuansa Aulia, 2006)
M. Nasir Budiman, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Madani Press, 2001, hal. 125.
Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Jilid 9, Mesir: Dar al-Misriyyah,1992, hal.370.
Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,1996, hal 26.
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfaz al-Qur’an al-Karim, cet.III, Beirut: Dar al-Fikr, 1992, hal.488.
 ‘Abd. Fattah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam, terj. Noer Ali, Bandung: Diponegoro, 1980
Abd al-Rahman al-Nahlawi, Usul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Asalibuha, Damaskus: Dar al Fikr,1993,
Muhammad al-Naquib al-Attas, The Concept of Education In Islam, Kuala Lumpur: ABIM, 1980,
Abdul Mujib dan Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media group. 2008, Cet. Ke-2,
Juhaya  S.  Praja,   Aliran-Aliaran  Filsafat  dan  Etika,  Suatu  Pengantar, Bandung: Yayasan Piara, 1997,
Paul  Edward  (Ed), The  Encyclopedia  of  Philosophy, vol. 3,  London:  The  Macmillan  Press, 1972,
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung: Sinar Grafika, 2008
Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, Jakarta: Kencana, 2014
Wan Daud, Wan Mohd Nor. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 1998,
Thoib, Ismail. Wacana Baru Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Genta Press, 2008
Feisal, Jusuf Amir. Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995



[1] Mahmud Yunus dan Muhammad Qasim Bakar, at-Tarbiyah wat Ta’lim Jilid 1, ( Ponorogo: Darussalam), hal. 8
[2] Ibid, h. 8
[3] H. M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, hal. 12
[4] Dewey, John, Democracy  and  Education, New York:  The Macmillan Company, 1950,  hal. 383.
[5] Ibid,  hal. 89.
[6] Ellis,  Athur  K., dkk.,  Introduction  to  the  Foundation  of  Education, New  Jersey-Englewood Cliffs:  Prentice  Hall,  1986,  hal.  126.  Thomas  A.  Bailey  dalam  bukunya, The  American  Pageant , vol.II,  8th edition,  Lexington-Massachussetts:D.C.  Heath  and  Company,  1987,  hal.  703-704 menjelaskan bahwa Dewey merupakan sososk revolusioner dalam bidang pendidikan.
[7] asy-Syaibani,  Daur  at-Tarbiyah  fi  Bina  al-Fard  wa  al-Mujtama`, Min  Silsilah  Kitab  asySyahr li Idarah as-Saqafah, `Adad 16, 1974, hal. 108-118 dan Al-Usus an-Nafsiyyah wa at-Tarbawiyyah li Ri`ayat as-Syabab, Beirut: Dar as-Saqafah, 1973, hal. 399-404 dan Falsafah at-Tarbiyah…, hal. 293.
[8] Tim redaksi nuansa aulia, Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Guru dan Dosen, (Jakarta:Nuansa Aulia, 2006), h. 97
[9] M. Nasir Budiman, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Madani Press, 2001, hal. 125.
[10] Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Jilid 9, Mesir: Dar al-Misriyyah,1992, hal.370.
[11] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,1996, hal 26.
[12] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfaz al-Qur’an al-Karim, cet.III, Beirut: Dar al-Fikr, 1992, hal.488.
[13] ‘Abd. Fattah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam, terj. Noer Ali, Bandung: Diponegoro, 1980,
hal.30.
[14] Fakhr al-Razi, Tafsir Fakhr al-Razi, Jil. 21, Teheran: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., hal. 191.
[15] Sayyid Qutb,Tafsir Fi Zilal al-Qur’an, jilid 15, Beirut: Dar al-Ihya’, t.t, hal.15.
[16] Abd al-Rahman al-Nahlawi, Usul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Asalibuha, Damaskus: Dar al Fikr,1993, hal.19-20.
[17] Muhammad al-Naquib al-Attas, The Concept of Education In Islam, Kuala Lumpur: ABIM, 1980, hal.25-30.
[18] Mahmud Yunus, Qamus, Jakarta: Mahmud Yunus Wadzuriyah. 1990, Cet. Ke. 8, hal. 37.
[19] Abdul Mujib dan Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media group. 2008, Cet. Ke-2, hal. 20. 
[20] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 3.            
[21] Ibid, hal. 33.
[22] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung: Sinar Grafika, 2008, hal. 2.
[23] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal.  46.
[24] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, Jakarta: Kencana, 2014, hal. 16
[25] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 1998, hal. 163
[26] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Bandung: Sinar Grafika, 2008), hal. 4
[27] Ibid, hal. 6
[28] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 76.
[29] Ibid, hal. 93-94.
[30] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 99.
[31]Ibid, hal. 165-166.
[32]Oemar Hamalik,Kurikulum dan Pembelajaran (Bandung: Sinar Grafika, 2008), hal. 7.
[33]Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 170.
[34] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung: Sinar Grafika, 2008, hal. 9.
[35] Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Genta Press, 2008, hal. 150
[36] Jusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995, hal. 214
[37] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 224-230
[38] Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta: Genta Press, 2008), hal. 178-180
[39] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 1998, hal. 163
[40] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014, hal. 30

0 komentar:

Post a Comment