Konsep Pendidikan Akhlak


Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau kepemimpinan secara sadar oleh para pendidik untuk pengembangan fisik dan spiritual yang terdidik menuju pembentukan kepribadian utama. Dalam bahasa Arab digunakan untuk berbagai macam pendidikan yang tidak terpuji, antara lain tarbiyah, Tahzib, kelompok belajar, ta'dib, siyasat, mawa'izh, ada ta'awwud dan tadrib. Adapun istilah tarbiyah, Tahzib dan ta'dib sering menafsirkan pendidikan. Ta'lim berarti mengajar, strategi yang didefinisikan siyasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa'izh berarti mengajar atau memberi peringatan. Ada ta'awwud tadrib yang ditafsirkan sebagai pelatihan habituasi.

Sedangkan akhlak secara etimologis adalah jamak dari khuluq yang berarti karakter, temperamen, perilaku dan tabi'at. Sinonim untuk akhlaq adalah moralitas, etiket, sopan santun, akhlak dan etika. Menurut Ibn Miskawaih, akhlaq adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan tindakan tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.

Menurut terminologi, akhlaq sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, akhlaq adalah bentuk (naluri asli) dalam jiwa seorang yang dapat melahirkan suatu rangkaian tindakan dan perilaku dengan mudah dan sopan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika naluri-naluri ini menghasilkan tindakan dan perilaku yang baik dan patut dihargai menurut nalar dan agama, itu disebut perilaku yang baik. Sebaliknya ketika menghasilkan tindakan jahat dan perilaku yang disebut perilaku buruk.

Jadi, pendidikan akhlak adalah kegiatan pendidikan yang disengaja untuk mendidik perilaku manusia di dalam dan di luar potensi manusi menuju arah yang diinginkan. Moralitas adalah bagian dari tujuan pendidikan di Indonesia; tujuan-tujuan ini memerlukan perhatian dari berbagai pihak untuk mewujudkan keterampilan manusia, kreatif, fisik dan spiritual sebagai akhlak mulia. Esensi pendidikan saat ini adalah pendidikan akhlak, karena tidak ada artinya keterampilan yang hebat jika tidak memiliki akhlaq yang mulia. Tidak ada artinya memiliki generasi yang hebat, jenius, kreatif tetapi akhlaqnya tidak luhur.

Referensi :
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al Ma’arif, 1989), p. 19.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, (ISTAC, 1980).
Wahyudin dkk, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi (Jakarta: Grasindo, 2009), p. 52.
Yunahar, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar offset, 1999),p. 2.


0 komentar:

Post a Comment