Pendidikan


Orang-orang Yunani, sekitar 600 SM seperti Thales, Phytagoras, Xenopanes, Heraklitus, Parmenides, Zeno, Sokrates, Plato, Aristoteles, Demokritos, Epikuros, Diogenes, Marcus Tullius, Philo, Lucius Annaeus Seneca, Marcus Aurelius, Sextus Empiricus, Plotinus, Agustinus, Boethius, Anselmus, Thomas Aquinas dll., dalam Yuana (2010) telah menyatakan bahwa pendidikan merupakan sebuah proses dalam membantu manusia dengan upaya untuk menjadi manusia. Ada dua kata penting dalam kalimat itu, pertama "bantuan" dan kedua "manusia".

Menurut Tafsir (2014), manusia itu perlu dibantu, agar menjadi manusia seutuhnya. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia ketika ia memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa tidak mudah menjadi manusia. Mengapa? Dahulu banyak orang gagal menjadi manusia. Tujuan pendidikan adalah untuk mendidik manusia menjadi manusia. Agar tujuan itu dapat tercapai dan program dapat terstruktur sifat manusia menjadi manusia harus jelas.

Apa kriteria manusia dalam tujuan pendidikan? Tentunya, ini akan ditentukan oleh filosofi hidup setiap orang. Orang Yunani dalam waktu yang lama telah menetapkan tiga syarat untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan mengendalikan diri; kedua, cinta tanah air; ketiga dan berpengetahuan luas.

Asy-Syaibani dalam Gade (2011) menjelaskan bahwa pendidikan adalah upaya untuk membentuk perilaku manusia dengan menanamkan ajaran agama dan nilai-nilai moral untuk mendapatkan kebahagiaan baik sebagai individu maupun sebagai anggota komunitas dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat (al-I'dad li al- hayat ad-dunya wa al-akhirah).

Sementara, John Dewey dalam Arifin (2000) mengatakan bahwa pendidikan sebagai proses untuk membangun keterampilan dasar yang mendasar, baik yang terkait dengan kognitif (intelektual) dan kekuatan perasaan (emosional), menuju sifat manusia, melalui filsafat juga dapat diartikan sebagai teori pendidikan umum.

Dalam bukunya, Democracy and Education, Dewey menjelaskan tujuan pendidikan, menurutnya adalah, "Tujuan pendidikan adalah untuk memungkinkan induvidual untuk melanjutkan pendidikan mereka atau bahwa objek dan hasil pembelajaran adalah kapasitas berkelanjutan untuk pertumbuhan". Lebih lanjut Dewey menjelaskan "Pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berkelanjutan, memiliki tujuan pada setiap tahap dan menambah kapasitas pertumbuhannya".

Di sisi lain, memasuki milenium ketiga, kehidupan manusia dewasa ini menjadi progresif dan kompleks. Pendidikan bertindak sebagai proses dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan Akhlaq Karimah/tata krama yang baik/moral/etika. Perkembangan dan kemajuan di semua bidang menghasilkan beberapa perubahan sosial yang besar dalam kehidupan manusia. Perkembangan itu membuat hidup manusia menjadi sangat modern dan progresif. Namun, perubahan sosial menyebabkan penafsiran dalam moralitas nasional, kehidupan, moralitas, dan urusan agama masyarakat, terutama bagi generasi muda yang membuat komunitas baru (Karnaen, 2014).

Untuk mengubah generasi muda yang berguna bagi agama, tanah air, dan bangsa membutuhkan tempat, tempat untuk membimbing, memelihara, dan memimpin generasi yang akan datang menjadi manusia yang sempurna lihat Khanafi (2010) dan tempat itu adalah lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan adalah lembaga, media, forum, atau situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan pelaksanaan proses pembelajaran, baik secara struktural maupun dalam tradisi yang telah dibuat sebelumnya. Definisi ini didasarkan pada pemahaman bahwa seluruh proses kehidupan manusia pada dasarnya adalah kegiatan belajar atau pendidikan (Roqib, 2009).

Lembaga pendidikan menurut Bloom dalam Topatimasang (1998) pada dasarnya memiliki fungsi dengan bekerja pada tiga wilayah kepribadian manusia yang disebutnya "taksonomi pendidikan": menetapkan karakter dan sikap (ranah afektif), mengembangkan pengetahuan (domain kognitif), serta keterampilan (psikomotor).

Taksonomi atau apa pun istilahnya, semua orang akan mengatakan dengan nama yang sama, bahwa lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk mendidik manusia untuk menjadi karakter, berpengetahuan dan terampil. Bagaimanapun, institusi memiliki tugas membangun seseorang untuk menjadi manusia dalam arti sebenarnya, keseluruhan, karena tiga dimensi dasar itu (karakter, pengetahuan dan keterampilan) yang menjadi dimensi khas kemanusiaan yang membedakan manusia pribadi seseorang dengan makhluk lain.

Sementara dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Dengan demikian, salah satu unsur yang terpenting dalam dunia pendidikan adalah nilai-nilai moral, dalam ajaran Islam sering disebut akhlaqul al-karimah, dan di dunia barat disebut etika. Dalam mengarahkan tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga aspek penting yang harus diperhatikan, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif dari sisi intelektual, aspek afektif dari sisi spiritual dan aspek psikomotorik dari sisi keterampilannya.

Referensi :

Abdul Karnaen, Hakim As-Shidqi and Akrim Mariyat, The Policy of Moral Education on KH Imam Zarkasyi’s Thought at Gontor Modern Islamic Boarding School, Jurnal Pendidikan Islam, Volume III, Nomor 1, Juni 2014/1435.

Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidika Islami (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014).

Asy-Syaibani,  Daur  at-Tarbiyah  fi  Bina  al-Fard  wa  al-Mujtama’, dalam Syabuddin Gade, Perbandingan Konsep Dasar Pendidikan antara Dewey dan Asy-Syaibani, Jurnal Ilmiah Didaktika, Agustus 2011, Vol. XII, No. I, p. 86-105.

Benjamin S. Bloom, ed., Taxonomy of Education Objectives: The Classification of Educational Goals, N. Y.,1956., at Topatimasang, Sekolah itu Candu (Jakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

Imam Khanafi thought about insan kamil at Filsafat Islam Pendekatan Tematik (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2010).

John Dewey, Democracy  and  Education (New York:  The Macmillan Company, 1950),  hal. 383., dalam H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2000).

John Dewey, Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education, (NuVision Publication, 2007).

John Dewey, Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education, (Los Angeles: IndoEuropean Publishing, 2012).

Kumara Ari Yuana, The Greates Philosophers: 100 Tokoh Filsuf Barat dari Abad 6 SM-Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2010).

Muh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam: Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat (Yogyakarta: LKIS, 2009).

Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu (Jakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

0 komentar:

Post a Comment